Tampilkan postingan dengan label Oscilloscope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oscilloscope. Tampilkan semua postingan

Analisa Ponsel Menggunakan DC Power Supply

Selamat malam Netter pada malam hari ini saya akan memberi  berita tentang cara Menganalisa Ponsel Menggunakan DC Power Supply. Dalam dunia teknisi ponsel, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk melakukan pendeteksian kerusakan ponsel yaitu dengan menggunakan sebuah alat yang disebut DC Power Supply. DC power supply ini sangat bermanfaat sekali untuk mengetahui tegangan yang dihasilkan oleh ponsel guna mendeteksi secara umum kerusakan yang dialami dan bisa juga menggantikan fungsi baterai dan mencharge baterai. Perlu diketahui bahwa masing-masing merk ponsel berbeda  Amphere yang dihasilkan, jadi harus sering menggunakan dan mencatat hasil amper yang di berikan.

Cara penggunaan DC power supply :
  • Hidupkan DC power supply dengan menekan saklar On 
  • Posisikan jarum pada kolom voltage V  pada 3,6- 4 volt  Sesuai Voltage Batrai
  • Kabel merah = positif 
  • Kabel hitam = negatif 
  • Kabel hijau/biru = Btemp "baterai temperatur"
  • Kabel kuning = BSI "baterai System informasi"
  • Letakkan kabel merah pada konektor positif baterai pada ponsel 
  • Letakkan kabel hitam pada konektor negatif baterai pada ponsel 
  • Lalu tekan switch on pada ponsel 

Perhatikan jarum pada kolom Amper berapakah yang dihasilkan?? melalui kolom amper inilah nanti akan dianalisa kerusakan yang terjadi, apakah penyebabnya software atau hardware !! sekian Netter semoga bermanfaat bagi semua pembaca, terima kasih. 

Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Analisa Ponsel Menggunakan DC Power Supply

Analisa Ponsel Menggunakan DC Power Supply

Selamat malam Netter pada malam hari ini saya akan memberi  berita tentang cara Menganalisa Ponsel Menggunakan DC Power Supply. Dalam dunia teknisi ponsel, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk melakukan pendeteksian kerusakan ponsel yaitu dengan menggunakan sebuah alat yang disebut DC Power Supply. DC power supply ini sangat bermanfaat sekali untuk mengetahui tegangan yang dihasilkan oleh ponsel guna mendeteksi secara umum kerusakan yang dialami dan bisa juga menggantikan fungsi baterai dan mencharge baterai. Perlu diketahui bahwa masing-masing merk ponsel berbeda  Amphere yang dihasilkan, jadi harus sering menggunakan dan mencatat hasil amper yang di berikan.

Cara penggunaan DC power supply :
  • Hidupkan DC power supply dengan menekan saklar On 
  • Posisikan jarum pada kolom voltage V  pada 3,6- 4 volt  Sesuai Voltage Batrai
  • Kabel merah = positif 
  • Kabel hitam = negatif 
  • Kabel hijau/biru = Btemp "baterai temperatur"
  • Kabel kuning = BSI "baterai System informasi"
  • Letakkan kabel merah pada konektor positif baterai pada ponsel 
  • Letakkan kabel hitam pada konektor negatif baterai pada ponsel 
  • Lalu tekan switch on pada ponsel 

Perhatikan jarum pada kolom Amper berapakah yang dihasilkan?? melalui kolom amper inilah nanti akan dianalisa kerusakan yang terjadi, apakah penyebabnya software atau hardware !! sekian Netter semoga bermanfaat bagi semua pembaca, terima kasih. 

Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Analisa Ponsel Menggunakan DC Power Supply

Cara Penggunaan Multitester / Avometer pada Ponsel

Satu hal yang wajib dimiliki oleh seorang teknisi elektro adalah multitester, Alat ini tidak bisa lepas juga dari teknisi Ponsel.Selain menggunakan DC power suplyseorang teknisi juga wajib mengetahui cara mengguna kan mutitester. Agar dapat lebih dipahami lagi ikuti keterangan dibawah ini, Multitester Analog dapat digunakan sebagai berikut:

A. Avometer.
Tentunya anda telah mengenal alat ukur yang namanyaAVOMETER, atau yang sering juga disebut dengan Multitester atau Multimeter. Kalau Belum kenal, bisa anda dilihat pada gambar dibawah ini:

B. Perhatikan 2 Gambar dibawah ini Gambar 2 danGambar 3

C. Pada Gambar 3 terdapat 4 Golongan :
  • Ω = Ohm/Tahanan. Untuk mengukur Ponsel dalam keadaan tidak dialiri tegangan dari Baterai ataupun Power Suplay, yang Umum digunakan adalah X1 dan X10. Jadi yang X1K dan X10K untuk Ponsel dapat anda abaikan, biar anda tidak bingung.
  • DCV = DC Voltase. Untuk mengukur Ponsel dalam keadaan terhubung dengan baterai ataupun  Power Suplay, yang sering digunakan hanya seperti pada Gambar 3, yaitu jarum penunjuk mengarah ke angka 10, yaitu untuk mengukur tegangan (V/Volt) yang nilainya dibawah 10 volt. Sedangkan yang 2.5 biasa digunakan untuk mengukur Vcore dan VIO karena lebih akurat , walaupun dengan penunjuk ke angka 10 anda masih dapat membaca tegangan yang berada di bawah 2.5 volt. Dan yang ke angka 50 hanya untuk mengukur Vled untuk LCD yang pada Ponsel tertentu nilainya lebih besar dari 10 Volt, Yang lain tidak digunakan dalam Service Ponsel.
  • DCmA = DC miliampere. Tidak atau jarang teknisi Ponsel mengunakan yang ini, Jadi bisa anda abaika saja.
  • ACV = AC Voltase. Abaikan saja, karena di Ponsel tidak ada arus AC, semuanya arus DC.
D. Cara Pakai Multitester Analog
Yang akan dibahas disini hanya yang digunakan untuk service Ponsel, yaitu Ω dan DCV.
  • Ω = Ohm/Tahanan. Sebelum anda menggunakan untuk mengetahui setiap kerusakan komponen Ponsel dengan menggunakan saklar penunjuk ke X 1 maupun X 10, sebaiknya anda satukan dahulu probe merah (+) dengan probe hitam (-) dan jarum penunjuk harus bergerak ke angka 0 (tulisan biru sebelah kanan atas pada gambar 2). Jika Tidak sampai atau lebih ke 0, anda dapat meng -0-kan dengan memutar ke kiri atau ke kanan tombol diatas tulisan O Ω ADJ pada Gambar 3. Jika Sudah diputar paling kanan belum sampai ke 0, baterai dalam avometer anda berarti sudah rusak dan perlu diganti. Jika AVOMETER anda seperti gambar diatas, baterai yang perlu diganti yaitu yang 1,5v (2 buah), sedangkan baterai yang 9V tidak perlu diganti (karena hanya digunakan untuk Ω X 10 K). Jika anda menggunakan X1 Ω, nilai yang perlu dibaca adalah angka 0 paling kanan atas lalu ke kiri 1,2,3, dst sampai 1k, jadi dengan menggunakan X1 Ω nilai maksimal yang dapat dibaca adalah 1 Kilo Ohm (1000 ohm). Sedangkan Jika anda menggunakan X10 Ω, nilai maksimalnya yaitu 1 Kilo Ohm dikalikan 10 atau sama dengan 10 Kilo Ohm. X1 Ω dan X10 Ω umumnya digunakan untuk mengukur Jalur dan Fuse (jika jalur dan Fuse tidak putus jarum penunjuk harus ke angka 0), Speaker, Mic, Vibrator, Dioda dan Transistor. Untuk R(resistor) yang nilainya lebih dari 10 K Ω, anda harus menggunakan X1K Ω atau 10K Ω). Untuk C (capasitor) akan lebih baik jika anda mencabut terlebih dahulu C yang akan diukur. C yang masih bagus apabila diukur akan menunjukkan ke angka tertentu kemudian jarum penunjuk kembali lagi ke kiri. Jika tidak kembali berati rusak. Untuk mengukur Dioda dalam keadaan dilepas dari rangkaian jarum hanya bergerak satu arah, jika dibalik probe-nya masih bergerak berati dioda tersebut bocor atau rusak. Untuk lebih cepat dan lebih ringkas dalam anda belajar mengukur…Cari bangkai Ponsel yang sejenis kemudian anda bandingkan nilainya dengan Ponsel yang sedang anda perbaiki.
  • DCV = DC Voltase. Dengan Saklar Penunjuk ke angka 10 seperti pada Gambar 3. Angka yang anda Baca adalah pada baris kedua dari atasGambar 2, yaitu yang ada tulisan DCV A 0-2- 4- 6- 8-10. Jika Pada saat pengukuran berada diantara angka 2 dan 4 berarti 3 Volt. Untuk menjadikan 0 anda tidak perlu menyatukanprobe merah dan probe hitam, cukup diputar dengan obeng pipih (obeng min) saklar ditengah bawah pada Gambar 2. Untuk mengukur baterai Ponsel yang umumnya 3,7 V … probe hitam di – baterai sedangkan probe merah di + baterai, kemudian baca jarum penunjuk, yaitu hampir ke angka 4. Jika jarum penunjuk dibawah 3,5 berarti baterai telah rusak. Untuk mengukur tegangan pada Rangkaian Ponsel, terlebih dahulu Ponsel yang akan diukur tegangannya dihubunghkan dengan baterai atau power suplay, dan probe hitam AVOMETER dapat anda hubungkan ke – (hitam) dari power supplay. Kemudian tekan saklar on-off di HP terus ukur tegangan yang ingin anda ukur pada rangkaian dengan menggunakan probe merah (+) dari AVOMETER.
Sampai disini dulu cara menggunakan Avometer untuk menganalisa kerusakan pada Ponsel. Silahkan Anda Praktekkan cara di atas. Semoga Postingan ini bermanfaat bagi para pembaca. Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Cara Penggunaan Multitester / Avometer pada Ponsel

Cara Penggunaan Multitester / Avometer pada Ponsel

Satu hal yang wajib dimiliki oleh seorang teknisi elektro adalah multitester, Alat ini tidak bisa lepas juga dari teknisi Ponsel.Selain menggunakan DC power suplyseorang teknisi juga wajib mengetahui cara mengguna kan mutitester. Agar dapat lebih dipahami lagi ikuti keterangan dibawah ini, Multitester Analog dapat digunakan sebagai berikut:

A. Avometer.
Tentunya anda telah mengenal alat ukur yang namanyaAVOMETER, atau yang sering juga disebut dengan Multitester atau Multimeter. Kalau Belum kenal, bisa anda dilihat pada gambar dibawah ini:

B. Perhatikan 2 Gambar dibawah ini Gambar 2 danGambar 3

C. Pada Gambar 3 terdapat 4 Golongan :
  • Ω = Ohm/Tahanan. Untuk mengukur Ponsel dalam keadaan tidak dialiri tegangan dari Baterai ataupun Power Suplay, yang Umum digunakan adalah X1 dan X10. Jadi yang X1K dan X10K untuk Ponsel dapat anda abaikan, biar anda tidak bingung.
  • DCV = DC Voltase. Untuk mengukur Ponsel dalam keadaan terhubung dengan baterai ataupun  Power Suplay, yang sering digunakan hanya seperti pada Gambar 3, yaitu jarum penunjuk mengarah ke angka 10, yaitu untuk mengukur tegangan (V/Volt) yang nilainya dibawah 10 volt. Sedangkan yang 2.5 biasa digunakan untuk mengukur Vcore dan VIO karena lebih akurat , walaupun dengan penunjuk ke angka 10 anda masih dapat membaca tegangan yang berada di bawah 2.5 volt. Dan yang ke angka 50 hanya untuk mengukur Vled untuk LCD yang pada Ponsel tertentu nilainya lebih besar dari 10 Volt, Yang lain tidak digunakan dalam Service Ponsel.
  • DCmA = DC miliampere. Tidak atau jarang teknisi Ponsel mengunakan yang ini, Jadi bisa anda abaika saja.
  • ACV = AC Voltase. Abaikan saja, karena di Ponsel tidak ada arus AC, semuanya arus DC.
D. Cara Pakai Multitester Analog
Yang akan dibahas disini hanya yang digunakan untuk service Ponsel, yaitu Ω dan DCV.
  • Ω = Ohm/Tahanan. Sebelum anda menggunakan untuk mengetahui setiap kerusakan komponen Ponsel dengan menggunakan saklar penunjuk ke X 1 maupun X 10, sebaiknya anda satukan dahulu probe merah (+) dengan probe hitam (-) dan jarum penunjuk harus bergerak ke angka 0 (tulisan biru sebelah kanan atas pada gambar 2). Jika Tidak sampai atau lebih ke 0, anda dapat meng -0-kan dengan memutar ke kiri atau ke kanan tombol diatas tulisan O Ω ADJ pada Gambar 3. Jika Sudah diputar paling kanan belum sampai ke 0, baterai dalam avometer anda berarti sudah rusak dan perlu diganti. Jika AVOMETER anda seperti gambar diatas, baterai yang perlu diganti yaitu yang 1,5v (2 buah), sedangkan baterai yang 9V tidak perlu diganti (karena hanya digunakan untuk Ω X 10 K). Jika anda menggunakan X1 Ω, nilai yang perlu dibaca adalah angka 0 paling kanan atas lalu ke kiri 1,2,3, dst sampai 1k, jadi dengan menggunakan X1 Ω nilai maksimal yang dapat dibaca adalah 1 Kilo Ohm (1000 ohm). Sedangkan Jika anda menggunakan X10 Ω, nilai maksimalnya yaitu 1 Kilo Ohm dikalikan 10 atau sama dengan 10 Kilo Ohm. X1 Ω dan X10 Ω umumnya digunakan untuk mengukur Jalur dan Fuse (jika jalur dan Fuse tidak putus jarum penunjuk harus ke angka 0), Speaker, Mic, Vibrator, Dioda dan Transistor. Untuk R(resistor) yang nilainya lebih dari 10 K Ω, anda harus menggunakan X1K Ω atau 10K Ω). Untuk C (capasitor) akan lebih baik jika anda mencabut terlebih dahulu C yang akan diukur. C yang masih bagus apabila diukur akan menunjukkan ke angka tertentu kemudian jarum penunjuk kembali lagi ke kiri. Jika tidak kembali berati rusak. Untuk mengukur Dioda dalam keadaan dilepas dari rangkaian jarum hanya bergerak satu arah, jika dibalik probe-nya masih bergerak berati dioda tersebut bocor atau rusak. Untuk lebih cepat dan lebih ringkas dalam anda belajar mengukur…Cari bangkai Ponsel yang sejenis kemudian anda bandingkan nilainya dengan Ponsel yang sedang anda perbaiki.
  • DCV = DC Voltase. Dengan Saklar Penunjuk ke angka 10 seperti pada Gambar 3. Angka yang anda Baca adalah pada baris kedua dari atasGambar 2, yaitu yang ada tulisan DCV A 0-2- 4- 6- 8-10. Jika Pada saat pengukuran berada diantara angka 2 dan 4 berarti 3 Volt. Untuk menjadikan 0 anda tidak perlu menyatukanprobe merah dan probe hitam, cukup diputar dengan obeng pipih (obeng min) saklar ditengah bawah pada Gambar 2. Untuk mengukur baterai Ponsel yang umumnya 3,7 V … probe hitam di – baterai sedangkan probe merah di + baterai, kemudian baca jarum penunjuk, yaitu hampir ke angka 4. Jika jarum penunjuk dibawah 3,5 berarti baterai telah rusak. Untuk mengukur tegangan pada Rangkaian Ponsel, terlebih dahulu Ponsel yang akan diukur tegangannya dihubunghkan dengan baterai atau power suplay, dan probe hitam AVOMETER dapat anda hubungkan ke – (hitam) dari power supplay. Kemudian tekan saklar on-off di HP terus ukur tegangan yang ingin anda ukur pada rangkaian dengan menggunakan probe merah (+) dari AVOMETER.
Sampai disini dulu cara menggunakan Avometer untuk menganalisa kerusakan pada Ponsel. Silahkan Anda Praktekkan cara di atas. Semoga Postingan ini bermanfaat bagi para pembaca. Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Cara Penggunaan Multitester / Avometer pada Ponsel

Penjelasan dan Penggunaan Frekuensi Counter Pada Ponsel

PENJELASAN DIGITAL FREQUENCY COUNTER Perangkat pengukur digital ini digunakan untuk memeriksategangan signal 13Mhz, 26Mhz dan 32,768Khz. Dalam bidang perbaikan ponsel, besaran signal tersebut adalah hasil output dari komponen VCO, IC RF dan Crystal Clock. Dimana apabila komponen VCO, besaran outputnya tidak sesuai 13Mhz, maka ponsel akan gagal boting Mati total. Begitu pula dengan komponen IC RF, apabila output signalnya tidak sesuai dengan nilai 26Mhz, (toleransi -100hz sampai +100hz) ponsel akan kehilangan signal. 

Untuk besaran signal 32,768 khz yang dihasilkan oleh komponen Crystal, apabila tidak sesuai, ponsel akan mengalami kerusakan hang atau bahkan mati. Pada Frekuensi Counter juga terdapat probe yang berfungsi sebagai stik tester dan juga penjepit groun pada PCB. Namun sebelum melakukan pengetesan, perlu diberi arus pada kisaran 3,6V-4V kesirkuit PBC dengan menggunakan power supply. Hal ini bertujuan agar komponen-komponen yang ada pada circuit, saling bereaksi sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Pengukuran tegangan signal 13Mgz, 26Mhz dan 32,768Khz pada circuit yang bekerja, bisa dilakukan melalui titik test point dari ketiga komponen yang menghasilkan tegangan signal tersebut.

PETUNJUK PENGGUNAAN DIGITAL FREQUENCY COUNTER

Dalam dunia Servis ponsel, penggunaan Frequency Counter mutlak diperlukan sebagai instrument pengukuran. Syarat kerja agar ponsel bisa hidup yaitu Tegangan, Clock, dan Data. Untuk mengukur tegangan dapat digunakan AVO Meter, Data berhubungan Software dan analisa melalui PC dan Box Flasher. Sedangkan Clock harus diukur dengan Frequency Counter atau Oscilloscope. 


Frequency Counter dapat mengukur besaran clock dengan sangat akurat hingga 6 digit di belakang koma. Clock dihasilkan oleh komponen pada ponsel yang bernama Crystal Oscillator (VCTCXO). Yang akan dikirimkan kepada RF IC selanjutnya oleh RF IC akan diolah menjadi RF Clock (System Clock) dan dikirim ke CPU sebagai syarat kerja CPU.
Komponen VCTCXO pada DCT3 dengan CPU MAD2PR1 = 13 Mhz (5110,3210), dan CPU MAD2WD1 sebesar 26 Mhz. (3310,8210,dsb) sedangkan pada DCT4 & WD2 VCTCXO = 26 Mhz, pada BB5 VCTCXO = 38,4 Mhz Tanpa Frequency Counter, kita tidak dapat menganalisa kerusakan dengan tepat. Untuk itu marilah kita mulai belajar mengggunakan Frequency Counter.

Kenali Panelnya :
TOMBOL

A.Tombol ON/OFF : Untuk Menyalakan/mematikan alat.
B.Tombol GATE TIME : Untuk memilih waktu tercapainya gelombang (dalam satuan detik), Ada 3 pilihan yaitu :

0,1 detik : Gelombang akan tercapai dalam waktu 0,1 detik
detik : Gelombang akan tercapai dalam waktu 1 detik
10 detik : Gelombang akan tercapai dalam waktu 10 detik

Berapapun Gate Time yg kita pilih, hasilnya sama saja. Hanya beda keakuratan digit dibelakang koma. Umumnya digunakan 0,1 atau 1 detik. Untuk 10 detik jarang digunakan karena terlalu lama menunggunya.

C.Tombol SELECTOR : Untuk Memilih Channel/saluran frequency yang akan digunakan. Ada 5 pilihan yaitu :

CH0 : Untuk mengukur frequency yang besarnya diatas 30 Mhz hingga 2,4 Ghz (LED Mhz & G akan menyala)
CH1 : Untuk mengukur frequency yang besarnya 1 Mhz hingga 30 Mhz (LED MHz saja yang menyala) CH2 : Untuk mengukur frequency yang besarnya 10 Hz hingga 999 Khz (LED Khz saja yang menyala) CH3 : Hanya berfungsi sbg Counter yang akan menghitung jika probe dipegang (LED OFF akan menyala) CH4 : Untuk mengukur frequency crystal pasif yang dicolok ke socket C. (LED Khz & µS akan menyala)

D.Tombol FUNCTION : Sehabis memilih Gate Time & Channel tekan tombol ini untuk segera memulai pengukuran. Bila tidak ditekan, pengukuran tetap akan tetap dilakukan namun menunggu selang beberapa detik.

F. Tombol REST : Hasil pengukuran pada layar dapat diberhentikan (Pause) dengan menekan tombol ini.

G.Tombol C XTAL : Jika ditekan, otomatis akan masuk CH4, akan mengukur Crystal yg ditancap di soket C.

SOKET

1. Pasang Kabel Probe di soket A untuk mengukur frequency yang besarnya 10 Khz s/d 30 Mhz
2. Pasang Kabel Probe di soket B untuk mengukur frequency yang besarnya diatas 30 Mhz s/d 2,4 Ghz
3.Tancap Crystal Pasif di soket C untuk mengukur langsung tanpa probe. Gunakan Selector CH4

LED INDICATOR

1. LED G : Akan menyala jika dipilih Channel 0
2. LED Mhz : Akan menyala jika dipilih Channel 1
3. LED Khz : Akan menyala jika dipilih Channel2
4. LED OF : Akan menyala jika dipilih Channel3
5. LED µS : Akan menyala jika dipilih Channel4

KALIBRASI FREQUENCY COUNTER

Dibagian belakang Frequency Counter ini selain terdapat soket kabel Power untuk dihubungkan ke stop kontak PLN 220V, terdapat pula lubang Sample Frequency 6 Mhz. Berguna saat kita ingin mengetahui apakah Frequency Counter ini masih berfungsi akurat/tdk, Caranya :
1.Nyalakan FC, lalu Setting FC à GATE TIME = 0,1 detik, SELECTOR = CH1, Kabel Probe colok di Soket bawah (A)
2.Tusuk Probe di soket bagian belakang FC tsb. Penjepit/ GND Probe tdk perlu digunakan.
3.Lihat hasil tampilan pada layar FC, jika menunjukkan 6.000 Mhz, menunjukkan bahwa FC ini masih akurat.

CONTOH CARA-CARA PENGUKURAN PADA PONSEL

Selalu nyalakan Power Supply (PS) set 4V, pasang kabel VBAT,BSI, GND pada connector Battere, untuk memberikan tegangan pengganti batere ke ponsel, agar rangkaian pada ponsel bekerja. Sehingga dapat dilakukan pengukuran.

1. 1. Mengukur Sleep Clock Crystal 32 Khz (RTC = Real Time Clock Crystal)
1. 2. Mengukur RF Clock Crystal DCT3/DCT4 13 Mhz atau 26 Mhz
1. 3. Mengukur RF Clock Crystal BB5 38,4 Mhz

2. 4. Mengukur SYS Clock 19,2 Mhz untuk OMAP serta penanganannya

3. 5. Mengukur Flash Cloc, SDRAM Clock & Trouble shootingnya
4. 6. Mengukur IF (Intermediate Frequency) 232 Mhz & 71 Mhz pada DCT3 dgn RF IC SUMMA & Mixer IC CRFU3

Mengukur Sleep Clock Crystal 32 Khz (RTC = Real Time Clock Crystal)

1.Setting FC --> Gate Time = 1 second, SELECTOR Ch2, Kabel Probe (-) jepit ke GND PCB, jarum Probe tusuk ke Test Point (TP1) Pengukuran (salah satu kaki Crystal 32 Khz)
2.Nyalakan ON/OFF Ponsel, lihat hasil di FC. Jika terbaca 32,768 Khz, maka dipastikan 32 Khz Crystal OK
3.Lalu jarum Probe ukur di TP2 Sleep Clock berdasarkan skema. Jika terbaca 32,768 Khz, bisa dipastikan IC Power OK (CCONT,UEM,RETU,AVILMA,GAZOO). Jika tdk terbaca hasilnya, cek IC Power.
Semoga postingan ini bermanfaat bagi para Pembaca blog ini. Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Penjelasan dan Penggunaan Frekuensi Counter Pada Ponsel

Penjelasan dan Penggunaan Frekuensi Counter Pada Ponsel

PENJELASAN DIGITAL FREQUENCY COUNTER Perangkat pengukur digital ini digunakan untuk memeriksategangan signal 13Mhz, 26Mhz dan 32,768Khz. Dalam bidang perbaikan ponsel, besaran signal tersebut adalah hasil output dari komponen VCO, IC RF dan Crystal Clock. Dimana apabila komponen VCO, besaran outputnya tidak sesuai 13Mhz, maka ponsel akan gagal boting Mati total. Begitu pula dengan komponen IC RF, apabila output signalnya tidak sesuai dengan nilai 26Mhz, (toleransi -100hz sampai +100hz) ponsel akan kehilangan signal. 

Untuk besaran signal 32,768 khz yang dihasilkan oleh komponen Crystal, apabila tidak sesuai, ponsel akan mengalami kerusakan hang atau bahkan mati. Pada Frekuensi Counter juga terdapat probe yang berfungsi sebagai stik tester dan juga penjepit groun pada PCB. Namun sebelum melakukan pengetesan, perlu diberi arus pada kisaran 3,6V-4V kesirkuit PBC dengan menggunakan power supply. Hal ini bertujuan agar komponen-komponen yang ada pada circuit, saling bereaksi sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Pengukuran tegangan signal 13Mgz, 26Mhz dan 32,768Khz pada circuit yang bekerja, bisa dilakukan melalui titik test point dari ketiga komponen yang menghasilkan tegangan signal tersebut.

PETUNJUK PENGGUNAAN DIGITAL FREQUENCY COUNTER

Dalam dunia Servis ponsel, penggunaan Frequency Counter mutlak diperlukan sebagai instrument pengukuran. Syarat kerja agar ponsel bisa hidup yaitu Tegangan, Clock, dan Data. Untuk mengukur tegangan dapat digunakan AVO Meter, Data berhubungan Software dan analisa melalui PC dan Box Flasher. Sedangkan Clock harus diukur dengan Frequency Counter atau Oscilloscope. 


Frequency Counter dapat mengukur besaran clock dengan sangat akurat hingga 6 digit di belakang koma. Clock dihasilkan oleh komponen pada ponsel yang bernama Crystal Oscillator (VCTCXO). Yang akan dikirimkan kepada RF IC selanjutnya oleh RF IC akan diolah menjadi RF Clock (System Clock) dan dikirim ke CPU sebagai syarat kerja CPU.
Komponen VCTCXO pada DCT3 dengan CPU MAD2PR1 = 13 Mhz (5110,3210), dan CPU MAD2WD1 sebesar 26 Mhz. (3310,8210,dsb) sedangkan pada DCT4 & WD2 VCTCXO = 26 Mhz, pada BB5 VCTCXO = 38,4 Mhz Tanpa Frequency Counter, kita tidak dapat menganalisa kerusakan dengan tepat. Untuk itu marilah kita mulai belajar mengggunakan Frequency Counter.

Kenali Panelnya :
TOMBOL

A.Tombol ON/OFF : Untuk Menyalakan/mematikan alat.
B.Tombol GATE TIME : Untuk memilih waktu tercapainya gelombang (dalam satuan detik), Ada 3 pilihan yaitu :

0,1 detik : Gelombang akan tercapai dalam waktu 0,1 detik
detik : Gelombang akan tercapai dalam waktu 1 detik
10 detik : Gelombang akan tercapai dalam waktu 10 detik

Berapapun Gate Time yg kita pilih, hasilnya sama saja. Hanya beda keakuratan digit dibelakang koma. Umumnya digunakan 0,1 atau 1 detik. Untuk 10 detik jarang digunakan karena terlalu lama menunggunya.

C.Tombol SELECTOR : Untuk Memilih Channel/saluran frequency yang akan digunakan. Ada 5 pilihan yaitu :

CH0 : Untuk mengukur frequency yang besarnya diatas 30 Mhz hingga 2,4 Ghz (LED Mhz & G akan menyala)
CH1 : Untuk mengukur frequency yang besarnya 1 Mhz hingga 30 Mhz (LED MHz saja yang menyala) CH2 : Untuk mengukur frequency yang besarnya 10 Hz hingga 999 Khz (LED Khz saja yang menyala) CH3 : Hanya berfungsi sbg Counter yang akan menghitung jika probe dipegang (LED OFF akan menyala) CH4 : Untuk mengukur frequency crystal pasif yang dicolok ke socket C. (LED Khz & µS akan menyala)

D.Tombol FUNCTION : Sehabis memilih Gate Time & Channel tekan tombol ini untuk segera memulai pengukuran. Bila tidak ditekan, pengukuran tetap akan tetap dilakukan namun menunggu selang beberapa detik.

F. Tombol REST : Hasil pengukuran pada layar dapat diberhentikan (Pause) dengan menekan tombol ini.

G.Tombol C XTAL : Jika ditekan, otomatis akan masuk CH4, akan mengukur Crystal yg ditancap di soket C.

SOKET

1. Pasang Kabel Probe di soket A untuk mengukur frequency yang besarnya 10 Khz s/d 30 Mhz
2. Pasang Kabel Probe di soket B untuk mengukur frequency yang besarnya diatas 30 Mhz s/d 2,4 Ghz
3.Tancap Crystal Pasif di soket C untuk mengukur langsung tanpa probe. Gunakan Selector CH4

LED INDICATOR

1. LED G : Akan menyala jika dipilih Channel 0
2. LED Mhz : Akan menyala jika dipilih Channel 1
3. LED Khz : Akan menyala jika dipilih Channel2
4. LED OF : Akan menyala jika dipilih Channel3
5. LED µS : Akan menyala jika dipilih Channel4

KALIBRASI FREQUENCY COUNTER

Dibagian belakang Frequency Counter ini selain terdapat soket kabel Power untuk dihubungkan ke stop kontak PLN 220V, terdapat pula lubang Sample Frequency 6 Mhz. Berguna saat kita ingin mengetahui apakah Frequency Counter ini masih berfungsi akurat/tdk, Caranya :
1.Nyalakan FC, lalu Setting FC à GATE TIME = 0,1 detik, SELECTOR = CH1, Kabel Probe colok di Soket bawah (A)
2.Tusuk Probe di soket bagian belakang FC tsb. Penjepit/ GND Probe tdk perlu digunakan.
3.Lihat hasil tampilan pada layar FC, jika menunjukkan 6.000 Mhz, menunjukkan bahwa FC ini masih akurat.

CONTOH CARA-CARA PENGUKURAN PADA PONSEL

Selalu nyalakan Power Supply (PS) set 4V, pasang kabel VBAT,BSI, GND pada connector Battere, untuk memberikan tegangan pengganti batere ke ponsel, agar rangkaian pada ponsel bekerja. Sehingga dapat dilakukan pengukuran.

1. 1. Mengukur Sleep Clock Crystal 32 Khz (RTC = Real Time Clock Crystal)
1. 2. Mengukur RF Clock Crystal DCT3/DCT4 13 Mhz atau 26 Mhz
1. 3. Mengukur RF Clock Crystal BB5 38,4 Mhz

2. 4. Mengukur SYS Clock 19,2 Mhz untuk OMAP serta penanganannya

3. 5. Mengukur Flash Cloc, SDRAM Clock & Trouble shootingnya
4. 6. Mengukur IF (Intermediate Frequency) 232 Mhz & 71 Mhz pada DCT3 dgn RF IC SUMMA & Mixer IC CRFU3

Mengukur Sleep Clock Crystal 32 Khz (RTC = Real Time Clock Crystal)

1.Setting FC --> Gate Time = 1 second, SELECTOR Ch2, Kabel Probe (-) jepit ke GND PCB, jarum Probe tusuk ke Test Point (TP1) Pengukuran (salah satu kaki Crystal 32 Khz)
2.Nyalakan ON/OFF Ponsel, lihat hasil di FC. Jika terbaca 32,768 Khz, maka dipastikan 32 Khz Crystal OK
3.Lalu jarum Probe ukur di TP2 Sleep Clock berdasarkan skema. Jika terbaca 32,768 Khz, bisa dipastikan IC Power OK (CCONT,UEM,RETU,AVILMA,GAZOO). Jika tdk terbaca hasilnya, cek IC Power.
Semoga postingan ini bermanfaat bagi para Pembaca blog ini. Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Penjelasan dan Penggunaan Frekuensi Counter Pada Ponsel

Penjelasan dan Penggunaan Oscilloscope Pada Ponsel

Oscilloscope adalah alat untuk pengukuran gelombang signal frekuensi ini, sangat berguna dalam pengukuran rangkaian elektronik seperti Ponsel, Radio Komunikasi dll. Untuk perbaikan ponsel, diharapkan kita dapat menggunakan oscilloscope untuk mengetahui kerusakan ponsel secara lebih akurat, selain dari pengalaman yang kita miliki dalam mengatasi kerusakan pada ponsel. Jadi ada baiknya kita lebih mengenal sedikit atau banyak masalah oscilloscope ini. Dalam thread ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai instrument pengukuran ini.

1. PENJELASAN OSCILLOSCOPE

Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik yang dapat memetakan sinyal listrik. Pada kebanyakan aplikasi, grafik yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana sinyal berubah terhadap waktu. Seperti yang bisa anda lihat pada gambar di bawah ini ditunjukkan bahwa pada sumbu vertikal(Y) merepresentasikan tegangan V, pada sumbu horisontal(X) menunjukkan besaran waktu t. Layar osiloskop dibagi atas 8 kotak skala besar dalam arah vertikal dan 10 kotak dalam arah horizontal. Tiap kotak dibuat skala yang lebih kecil. Sejumlah tombol pada osiloskop digunakan untuk mengubah nilai skala-skala tersebut.

Osiloskop ‘Dual Trace’ dapat memperagakan dua buah sinyal sekaligus pada saat yang sama. Cara ini biasanya digunakan untuk melihat bentuk sinyal pada dua tempat yang berbeda dalam suatu rangkaian elektronik. Kadang-kadang sinyal osiloskop juga dinyatakan dengan 3 dimensi. Sumbu vertikal(Y) merepresentasikan tegangan V dan sumbu horisontal(X) menunjukkan besaran waktu t. Tambahan sumbu Z merepresentasikan intensitas tampilan osiloskop. Tetapi bagian ini biasanya diabaikan karena tidak dibutuhkan dalam pengukuran.
Wujud/bangun dari osiloskop mirip-mirip sebuah pesawat televisi dengan beberapa tombol pengatur. kecuali terdapat garis-garis(grid) pada layarnya. Apa Saja yang dapat diukur dengan Osiloskop? Osiloskop sangat penting untuk analisa rangkaian elektronik. Osiloskop penting bagi para montir alat-alat listrik, para teknisi dan peneliti pada bidang elektronika dan sains karena dengan osiloskop kita dapat mengetahui besaran-besaran listrik dari gejala-gejala fisis yang dihasilkan oleh sebuah transducer. Para teknisi otomotif juga memerlukan alat ini untuk mengukur getaran/vibrasi pada sebuah mesin. Jadi dengan osiloskop kita dapat menampilkan sinyal-sinyal listrik yang berkaitan dengan waktu. Dan banyak sekali teknologi yang berhubungan dengan sinyal-sinyal tersebut. 

Contoh beberapa kegunaan osiloskop :

* Mengukur besar tegangan listrik dan hubungannya terhadap waktu. 
* Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi. 
* Mengecek jalannya suatu sinyal pada sebuah rangakaian listrik. 
* Membedakan arus AC dengan arus DC. 
* Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan hubungannya terhadap waktu.

SETTING DEFAULT OSCILLOSCOPE

Tombol Umum:

On/Off : Untuk menghidupkan/mematikan Oscilloscope 
Ilumination : Untuk menyalakan lampu latar.
Intensity : Untuk mengatur terang/gelapnya garis frekuensi 
Focus : Untuk mengatur ketajaman garis frekuensi 
Rotation : Untuk mengatur posisi kemiringan rotasi garis frekuensi 
CAL : Frekuensi Sample yg dpt diukur utk mengkalibrasi Oscilloscope

Tombol di Vertikal Block :

Position : Untuk mengatur naik turunnya garis. 
V. Mode : Untuk mengatur Channel yg dipakai 
Ch1 : Menggunakan Input Channel1 
Ch2 : menggunakan Input Channel 2 
Alt : (Alternate) menggunakan bergantian Channel1 dan Channel 2 
Chop : Menggunakan potongan dari Channel 1 dan Channel2 
Add : Menggunakan penjumlahan dari Ch1 dan Ch2 
Coupling : Dipilih sesuai input Channel yg digunakan, 
Source : Sumber pengukuran bisa dari Channel1 atau Channel2 
Slope : Normal digunakan yang +. Gunakan yang – untuk kebalikan gelombang. 
AC-GND-DC : Pilih AC utk gelombang bolak-balik (peak to peak) Pilih DC utk gelombang/tegangan searah DC Pilih GND utk menonaktifkan gelombang mis:Utk menentukan posisi awal 
VOLTS/DIV : Untuk menentukan skala vertikal tegangan dlm satu kotak/DIV Vertikal.

Tombol di Horizontal Block :

Position : Untuk mengatur posisi horizontal dari garis gelombang. 
TIME/DIV : Untuk megatur skala frekuensi dlm satu kotak/DIV Horizontal.
X10 MAG : Untuk memperbesar/ Magnificient frekuensi menjadi 10x lipat. 
Variable : Untuk mengatur kerapatan gelombang horizontal. 
Trigger Level : Untuk mengatur agar frekuensi tepat terbaca.

Rumus frekuensi dengan Time(Waktu): 
Frekuensi satuannya Hertz (Hz) 
Time satuannya Detik/Second (s)

f = 1
T

T = 1
F

M = mega (1.000.000) 1 MHz >< 1 S
µ = mikro (1/1.000.000)

Setting tombol yang biasa saya gunakan untuk pengukuran frekuensi (Jadi gak perlu milih2 lagi) :

26 Mhz dan 13 Mhz dan 38,4 Mhz Volts/Div : 20m Volt Time/Div : Mentok ke kanan

32 Khz Crystal (Sebelum masuk CCONT) Volts/Div : 20mV atau 50mV Time/Div : 20 µS (Boleh juga 0,1mS / 50 µS / 10 µS)

32 Khz Sleep Clock (Sesudah masuk CCONT) Volts/Div : 1 Volts Time/Div : 20 µ S

RX I/Q Volts/Div : 0,2 Volts Time/Div : 1 mS

SClk (Synthetizer Clock) 3V Volts/Div : 1 Volt Time/Div : 0,1mS atau bebas.

COBBA Clock Volts/Div : 0,5 Volts Time/Div : mentok ke kanan.

3. Kalibrasi Oscilloscope

Pada umumnya, tiap osiloskop sudah dilengkapi sumber sinyal acuan untuk kalibrasi. Sebagai contoh, osiloskop GW tipe tertentu mempunyai acuan gelombang persegi dengan amplitudo 2V peak to peak dengan frekuensi 1 KHz.

Misalkan kanal 1 yang akan dikalibrasi, maka BNC probe dihubungkan ke terminal masukan kanal 1, seperti ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar di atas menggunakan probe 1X, dengan ujung probe yang merah dihubungkan ke terminal kalibrasi. Capit buaya yang hitam tidak perlu dihubungkan ke ground osiloskop karena sudah terhubung secara internal. Pada layar osiloskop akan nampak gelombang persegi. Atur tombol kontrol VOLTS/DIV dan TIME/DIV sampai diperoleh gambar yang jelas dengan amplitudo 2 V peak to peak dengan frekuensi 1 KHz., seperti ditunjukkan pada gambar berikut:
Gunakan tombol kontrol posisi vertikal V-pos untuk menggerakkan seluruh gambar dalam arah vertikal dan tombol horizontal H-pos untuk menggerakkan seluruh gambar dalam arah horizontal. Cara ini dilakukan agar letak gambar mudah dilihat dan dibaca.

4. Cara Kerja Osiloskop Analog

Pada saat osiloskop dihubungkan dengan sirkuit, sinyal tegangan bergerak melalui probe ke sistem vertical. Pada gambar ditunjukkan diagram blok sederhana suatu osiloskop analog.
Bergantung kepada pengaturan skala vertikal(volts/div), attenuator akan memperkecil sinyal masukan sedangkan amplifier akan memperkuat sinyal masukan.

Selanjutnya sinyal tersebut akan bergerak melalui keping pembelok vertikal dalam CRT(Cathode Ray Tube). Tegangan yang diberikan pada pelat tersebut akan mengakibatkan titik cahaya bergerak (berkas elektron yang menumbuk fosfor dalam CRT akan menghasilkan pendaran cahaya). Tegangan positif akan menyebabkan titik tersebut naik sedangkan tegangan negatif akan menyebabkan titik tersebut turun.

Sinyal akan bergerak juga ke bagian sistem trigger untuk memulai sapuan horizontal (horizontal sweep). Sapuan horizontal ini menyebabkan titik cahaya bergerak melintasi layar. Jadi, jika sistem horizontal mendapat trigger, titik cahaya melintasi layar dari kiri ke kanan dengan selang waktu tertentu. Pada kecepatan tinggi titik tersebut dapat melintasi layar hingga 500.000 kali per detik.

Secara bersamaan kerja sistem penyapu horizontal dan pembelok vertikal akan menghasilkan pemetaan sinyal pada layar. Trigger diperlukan untuk menstabilkan sinyal berulang. Untuk meyakinkan bahwa sapuan dimulai pada titik yang sama dari sinyal berulang, hasilnya bisa tampak pada gambar berikut :
Pada saat menggunakan osiloskop perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Tentukan skala sumbu Y (tegangan) dengan mengatur posisi tombol Volt/Div pada posisi tertentu. Jika sinyal masukannya diperkirakan cukup besar, gunakan skala Volt/Div yang besar. Jika sulit memperkirakan besarnya tegangan masukan, gunakan attenuator 10 x (peredam sinyal) pada probe atau skala Volt/Div dipasang pada posisi paling besar.
  2. Tentukan skala Time/Div untuk mengatur tampilan frekuensi sinyal masukan. 
  3. Gunakan tombol Trigger atau hold-off untuk memperoleh sinyal keluaran yang stabil. 
  4. Gunakan tombol pengatur fokus jika gambarnya kurang fokus. 
  5. Gunakan tombol pengatur intensitas jika gambarnya sangat/kurang terang. 

5. Kinerja Osiloskop

Istilah yang dijelaskan pada bagian ini akan sering digunakan untuk membicarakan kehandalan sebuah osiloskop.

Lebar Pita (Bandwidth)

Spesifikasi bandwidth menunjukan daerah frekuensi yang dapat diukur oleh osiloskop dengan akurat. Sejalan dengan peningkatan frekuensi, kapabilitas dari osiloskop untuk mengukur secara akurat semakin menurun. Berdasarkan perjanjian, bandwidth menunjukkan frekuensi ketika sinyal yang ditampilkan tereduksi menjadi 70.7% dari sinyal sinus yang digunakan. (angka 70.7% mengacu pada titik “-3 dB”, sebuah istilah yang berdasar pada skala logaritmik).

Sampai disini dulu tulisan saya tentang  Penjelasan dan Penggunaan Oscilloscope Pada Ponsel, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. Komentar Anda Sangat Bermanfaat Bagi Perkembangan Blog InI
READMORE - Penjelasan dan Penggunaan Oscilloscope Pada Ponsel